Menebar dan Mewariskan Kebaikan

Kupandangi wajah yang terlihat sangat tenang dengan seulas senyum tipis. Kucium kening tanpa kerutan yang biasanya selalu tampak. Kening orang yang dulu berusaha untuk selalu mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Seseorang dengan sigap merapikan kembali penutup wajah Bapak. Sebentar lagi azan Asar, tubuh kaku berbalut kain kafan putih itu harus segera dimakamkan. Seharusnya prosesi ini dilakukan setelah Zuhur. Namun, masih menanti kedatangan anak pertama yang berpacu dengan waktu menebas perjalanan yang ternyata tidak cukup dekat. Dan di pemakaman itulah aku terpaksa harus memuaskan diri untuk menatapnya terakhir kali.

"Tanahnya berlebih. Kita tepikan ke pinggir dulu."


Seseorang berkata lirih. Aku memandang sekilas. Butuh dua orang lebih untuk melakukannya agar prosesi pembacaan yasin dan doa segera dilaksanakan.

Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar hingga aku berada di rumah yang sudah sangat ramai disesaki keluarga dan tetangga. Wajah manis dan sesekali tertawa kecil menghiasi wajah menanggapi mereka yang menyalami dan menyatakan belasungkawa. Entahlah, saat itu aku seolah tampak biasa saja. Tidak ada ratapan kesedihan dan air mata yang mengalir deras.

Mungkin karena prosesi pemakaman Bapak berlangsung tanpa tragedi apapun. Mengingat banyak sekali hal-hal ajaib di luar nalar manusia bisa saja terjadi di sana. Hal tersebut tak lain karena prilaku jenazah semasa hidup.

Melihat kelancaran prosesi pemakaman Bapak, musnah segala kekhawatiran yang mendominasi hati. Mengingat ia menghembuskan napas terakhirnya saat tengah duduk santai memotong kayu di kebun sawit miliknya. Duniawi sekali, dimana saat ini semakin banyak orang saleh meninggal di kala sujud menghadap Rabb-nya.

Seiring berjalannya waktu, semua tabir kebaikannya terbuka begitu saja. Membuatku menyesal dan malu karena telah salah menilai.

(Ar-Rahman: 60) هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

"Insya Allah Bapakmu sudah bahagia di sana. Lihatlah tanah kuburannya yang banyak berlebih. Sebelum itu, Nenek menyaksikan kuburan yang susah sekali ditimbun karena selalu kekurangan tanah."

Aku terhenyak. Teringat adikku pernah bermimpi melihat kuburan Bapak yang dinaungi pepohonan rindang. Masya Allah. Aku mulai mengurai satu persatu kisah yang mungkin menjadi sebab betapa Ia menghadap Rabb-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Insya Allah.

Apa yang sudah dilakukan lelaki yang padanya aku masih memendam setitik kebencian? 

Menyenangkan Hati Ibunya

"Apa yang diminta Bou selalu dikasih Bapak."

Ini jawaban ibu saat aku menanyakan kenapa Bapak "mengajak" Bou, salah satu adik perempuannya. Belum genap sebulan, dan kami menerima dua berita kemalangan beruntun.

Ibu melanjutkan penjelasannya bahwa ketika masih gadis, sang adiklah yang selalu menemani ibu mereka di rumah. Apa yang Bou pinta saat itu memang kebanyakan untuk kepentingan ibu mereka.

Aku jadi teringat bagaimana nenek yang seolah menunggu kehadiran Bapak terlebih dulu sebelum menghembuskan napas untuk terakhir kali.

Mengalah Demi Keluarga Besar

Banyak sekali gesekan-gesekan dalam keluarga besar Bapak. Namun, ia selalu berperan sebagai penengah. Pun ketika terlibat dalam suatu perkara pelik, ia selalu mengalah. Tentu saja tak lepas dari persoalan keuangan dan warisan. Ia lebih memilih untuk memberi lebih daripada harus bersitegang mempertahankan hak. 

Menampung dan Menyekolahkan Kerabat

Kepala pusing yang dikeluhkan adik ipar Bapak tentu saja aku tahu penyebabnya. Kesedihan luar biasa pasti mendera jiwanya. Kebaikan-kebaikan Bapak bisa saja menyerang secara beruntun ingatannya. Berkat kebaikan Bapak, ia bisa melanjutkan sekolah menengah atas dan kini sudah mereguk kebahagiaan dengan bekerja di sebuah kantor pemerintahan.

Tolonglah Allah, maka Allah akan menolongmu kemudian.

Sebab kebaikan Bapak di kemudian hari, Allah mengirimkan istri iparnya tersebut untuk menjadi solusi atas masalah keuangan anaknya. Padahal ia sudah tiada. Namun sungguh, kebaikan itu menular. 

Mengikhlaskan Hutang Tetangga

Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk memahami kalau Bapak baru melakukan kebaikan yang lain. Ibu hanya berkata singkat, "Bapak mengikhlaskan 20 juta uangnya."

Saat itu yang aku tahu, tetangga yang datang ke rumah itu baru saja kehilangan kepala keluarga mereka yang masih mempunyai hutang dalam jumlah yang cukup besar pada Bapak. Mungkin, rasa empati Bapak yang sangat besar membuatnya tanpa berpikir panjang merelakan sisa uang yang belum bisa dibayar oleh keluarganya.

Mencukupi Kebutuhan Keluarga

"Namanya Bapak nyari duit untuk kita, Kak."

Perkataan adikku tak ayal menyentak relung hati manakala kami tengah membahas satu persoalan keluarga. Rasa "dendam" terselubung pun langsung menguap meninggalkan penyesalan yang tak bertepi.

Bapak memang selalu berusaha mencukupi kebutuhan kami, terutama yang terkait dengan pendidikan. 

"Bapak sampai rela berhutang untuk kalian."

Terlintas kembali perkataan Ibu ketika kami menziarahi kuburan Bapak untuk kedua kalinya. 

Ah, betapa kekanak-kanakannya aku sehingga tak mampu melihat segala kebaikannya padaku. Satu perbuatan buruk yang dilakukannya mampu menutup kebaikan-kebaikannya yang tak berujung. Pun hingga ia pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Ia mewariskan kehidupan yang baik bagi istri dan anak-anaknya.

Semakin luas jarak dan waktu yang membentang memisahkan kami, semakin aku merasa begitu kehilangan sosoknya. Lelaki yang padanya aku pernah menyimpan "dendam."

Kini, kebaikan-kebaikannya selalu menghantui keseharianku. Setiap malam Jumat tiba, hembusan rasa duka seolah datang menyelimuti dan bermuara pada hadirnya Al-Fatihah dan Yasin di lisan. Setiap melihat lelaki tua sedang bersusah payah dengan aktivitasnya, seketika aku membayangkan kesusahan demi kesusahan Bapak demi menafkahi kami, keluarganya. 

Kemarin aku baru memberi selembar uang biru kepada seorang bapak tua pengumpul sampah. Hatiku mendadak gerimis saat melihatnya tengah repot memilah sampah-sampah yang telah ia kumpulkan dari beberapa rumah sekitar.

Ya, Bapak telah berhasil menebar kebaikan pada orang lain dan mewariskannya padaku. Kini saatnya aku melanjutkannya, menebar dan selalu berusaha untuk terus menebar kebaikan. Ke siapapun, sekecil apapun. Berharap, setiap pahala kebaikan yang kulakukan selalu mengalir padanya.

Aku tahu, mungkin bekalnya sudah lebih dari cukup untuk menghadap Rabb-nya. Namun, aku  hanya ingin membaktikan diri pada-Nya yang belum sempat aku lakukan saat fisiknya masih berada di dunia.

Bagaimana caraku berbakti kepada Bapak? 

Aku ingin sekali bisa secara rutin mengirimkan pahala sedekah padanya. Akan tetapi, aku hanya seorang ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan dari segi finansial. 

Akhirnya aku menemukan satu solusi terbaik. Ada Dompet Dhuafa yang memudahkanku untuk menyalurkan donasi walau dengan nominal kecil. Hanya dengan uang sebesar Rp10.000, aku sudah bisa melakukan donasi dengan pilihan jenis donasi infak/sedekah.

Aku berharap nantinya akan bisa melakukan zakat dan juga wakaf melalui Dompet Dhuafa. Cara donasinya cukup mudah. Aku hanya perlu membuka situs resmi Dompet Dhuafa dan mengisi data seperti gambar di bawah ini. 





Aku memilih online payment (lihat: klik tanda panah hijau di gambar atas) karena saldo rekeningku lagi kosong. Honor menulis yang baru saja dikirim melalui OVO aku akan sedekahkan seraya berdoa semoga pahalanya mengalir pada Bapak. Aamiin.

Semoga dalam waktu dekat, aku bisa berwakaf produktif dan disalurkan melalui Dompet Dhuafa yang sudah berpengalaman dalam menebar kebaikan hingga ke pelosok nusantara. Wakaf produktif inilah yang akan mengalirkan pahala yang tak terputus untuk siapa yang kita niatkan mendapatkannya. 

Bismillah. Warisan kebaikan berbagi Bapak akan terus aku lanjutkan. Inilah caraku berbakti kini. Semoga kamu yang membaca tulisan ini dan bernasib sama denganku juga begitu. Aamiin.

"Sedekah itu bukan untuk yang kaya, tetapi untuk yang mau"




"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa"








Keluasan Ilmu Berbanding Lurus dengan Gelar Akademik?

Jika kita seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris, apakah sudah menjamin mampu mengajar dengan baik, dan pasti fasih berbicara bahasa Inggris? 
Belum tentu. 

Jika kita seorang ibu rumah tangga, bukan berarti tidak bisa berperan sebagai dokter yang tahu cara mencegah dan mengobati penyakit anak.

Di era milenial saat ini, sumber ilmu begitu mudah diperoleh, bisa dari media cetak; buku, majalah, koran, dan lain sebagainya. Kita juga bisa dengan mudah mengetik "cara mengobati penyakit campak menggunakan bahan alami" di laman google dan dalam hitungan detik, berbagai situs yang membahasnya akan terpampang jelas. 
Kita hanya perlu sedikit menyeleksi sumbernya, kredibel atau tidak. Usahakan yang bukan blog/laman gratisan. 

Ilmu pengetahuan itu luas, bisa didapat dari mana saja. Kita tidak harus mengenyam pendidikan farmasi hanya karena ingin mengetahui kandungan suatu obat. 

Adalah lumrah jika ilmu yang dimiliki seseorang berbanding lurus dengan gelar yang diperolehnya. Tetapi bodoh sekali jika kita menyepelekan keilmuan agama seseorang, misalnya, hanya karena tidak mengenyam pendidikan di universitas Islam negeri. Bisa jadi orang yang dibully habis-habisan itu mengikuti kajian agama rutin dan membaca literatur lebih banyak.

Buya Hamka pernah menulis, "Semakin luas ilmu seseorang, semakin sedikit ia menyalahkan orang lain." 

Sombong itu pakaian Allah, bukan makhluk. 
Paham sampai disini kan?  

Gelang Sawan

"Mbak, gini lho logikanya, jika menggantungkan hidup mati hanya kepada Allah, pertanyaannya, apa cukup dengan berdoa saja jadi kenyang? Nggak kan? Kita harus ikhtiar dengan makan supaya tidak lapar. Masa' makan supaya tidak lapar termasuk syirik?"

Ini salah satu komentar tentang gelang sawan yang membuat tanganku gatal untuk membalas. 

Tentu saja makan supaya tidak lapar itu salah satu bentuk ikhtiar. Semua orang pasti setuju. 

Apa cukup  hanya dengan berdoa saja jadi kenyang? Tentu saja bisa. Jika imanmu benar, tauhidmu lurus. 

Hak mutlak Allah yang memberikanmu perasaan lapar maupun kenyang. 

"Ketika kita lapar, yang pertama harus  dilakukan adalah katakan kepada Allah, Ya Allah, aku lapar!"

Pernyataan ustadz Derry Sulaiman ini membuatku tersenyum, terkesan lucu, tapi akhirnya membuatku mengangguk mendengar penjelasan berikutnya. 

Jika kita kemudian makan untuk menghilangkan rasa lapar, tentu saja lumrah. Tapi bagaimana jika seseorang yang mengadu pada Allah itu ternyata tidak punya sedikitpun persediaan makanan? Dia cuma bisa berdoa dan kemudian membaca Alquran, berharap agar Allah menghilangkan rasa laparnya, apakah itu tidak bagian dari ikhtiar? 

Itulah sebabnya, ada orang yang bisa kenyang dengan makan sedikit saja, dan ada yang butuh berpiring-piring makanan supaya bisa menghilangkan rasa laparnya. 

Jika kita meyakini bahwa makananlah satu-satunya cara yang bisa menghilangkan rasa lapar, tentu saja jatuh kepada kesyirikan. Karena Allahlah yang sebenarnya membuat kita merasa kenyang. 

Nah, gelang sawan itu mungkin bagi sebagian orang termasuk ikhtiar, dengan memakainya bisa melindungi anak dari gangguan jin. Benarkah? 

Sesungguhnya hanya Allah yang bisa melindungi kita dari gangguan apapun. Allah yang mengizinkan segala kebaikan dan keburukan yang terjadi di kehidupan dengan tetap menyadari bahwa sesuatu yang baik menurutmu belum tentu baik menurutNya, begitupun sebaliknya. 

Jika meyakini bahwa gelang sawanlah yang melindungi, tentu kita sudah menjadi musyrik. Memakaikannya terus menerus ke pergelangan anak kita sebagai bentuk ikhtiar, perlahan tapi pasti, akan menggerus kepercayaan kita bahwa Dialah satu-satunya Sang Maha Pemberi Pertolongan. Aqidah kita akan rusak karena pada akhirnya kita hanya percaya bahwa gelang tersebut yang mampu menghilangkan sawan yang disebabkan oleh jin. 

"Ingatkan pada para peternak, susu itu datangnya dari Allah, bukan dari kambing. Laa ilaaha illallah." 
Beruntung sekali bisa mendengar kajian-kajian ustadz Derry. Masya Allah. Semua atas izin Allah. 


Cerpen: Goresan Abadi

Menangis dalam diam. Hanya itulah yang bisa aku lakukan. Sering sekali aku melihat mereka bertengkar. Entah karena apa. Usiaku yang masih sangat belia, belum mampu memahami pemikiran orang dewasa. 

Aku memasuki kamar itu. Kamar yang didalamnya ada tangisan dan jeritan ibu, serta kemarahan ayah. 

"Bunuh aku. Biar puas kau!" Ibu berteriak, menatap tajam ke arah ayah. 

"Kanya, ambil pisau di dapur!" perintah ayah saat melihatku masuk ke dalam kamar. 

Aku masih bisa berpikir waras. Aku diam saja, tak bergerak sama sekali. Terpaku menatap lantai. Mereka terus saja ribut. Bisakah bertengkar dengan hanya berbisik? Aku malu pada teman yang rumahnya tepat di sebelah rumahku. Dia pasti mendengarnya. 

*
Kenapa mereka tidak mampu menjaga perasaanku? Kenapa mereka selalu memperlihatkan pertikaian semacam ini?  Tidakkah mereka takut, ini akan menjadi ingatan yang tak lekang di makan usia? Ini akan berpengaruh pada kepribadianku. 

Ah, entahlah. Aku,  si sulung, yang hobi membaca majalah Bobo. Majalah anak yang penuh dengan dongeng dan cerpen syarat makna. Majalah yang membuatku mampu berimajinasi tinggi, berandai-andai jika aku terlahir di tengah keluarga yang harmonis.


Cerpen: Al-Faruq, Sang Pelukis Cinta

Mengelepar. Bak ayam yang baru saja disembelih. Serupa cacing terpapar terik mentari di permukaan tanah. 

Aku menemukannya. Refleks kuangkat tubuh bergetar itu tanpa keluhan. Dalam keadaan normal, menggendong semenit saja membuat lelah kedua tangan. 

Kuabaikan tangisan sang adik yang menuntut botol agar segera diisi cairan manis berwarna putih. 

Hamdalah terucap di bibir walau hati disesaki ketakutan teramat sangat. Menyadari  tersedianya air hangat yang cukup untuk membasahi sebagian tubuh dan kaki.  

Aku mendudukkan bocah lelaki itu pada ember hitam yang dulu digunakan untuk merendam pakaian kotor. Semenjak penghuni baru merampas perannya, seketika itu pula menganggur. 

Hampir satu tahun, dan kejadian itu akhirnya terulang sore ini.  Lima menit sebelum azan berkumandang. 

Dalam hitungan detik, kejang yang menyerang lenyap. Menyisakan sosok lemah dengan mata terpejam dan sedikit meracau.

Aku belum siap kehilangan, Tuhan! 

***

Menghadirkannya segera di dunia, harapan terbesar di hidupku. Rindu akan sosok mungil terbit melengkapi cinta dua insan yang terikat ikrar suci. 

Berbagai upaya dilakukan. Banyak saran dilaksanakan. Pun memaksa kekasih untuk meneguk minyak zaitun. Buah dari pohon yang diberkahi. 

Demi dua garis merah. Dengan sukarela melahap kecambah mentah setiap hari. 

Dan Allah mengabulkan keinginan. Jauh lebih cepat dari perkiraan. Memasuki bulan ketiga usia pernikahan, senyum terkembang. Allah Maha Baik. 

Tubuh yang mendadak lemah, sesekali mual dan muntah kuabaikan. Sama sekali tidak terbesit akan pertanda. Sebab tesis yang sempat tertunda menuntut untuk segera diselesaikan. 

Keberadaannya di rahim mulai terasa ketika sidang tesis berakhir dengan nilai cukup baik. Walau tak sesuai harapan. Tak mengapa. Muram di wajah segera berganti senyum berkatnya. Dan kebahagiaan wisuda strata dua terasa begitu sempurna di usia triwulan pertamanya. 

Namun, binar mata dan lengkungan manis di bibir tidak berlangsung lama. Sosok itu menebalkan rupa aslinya.

***

Masih saja menyangkal. Pendengaran lagi-lagi tak menangkap satu kata yang diharapkan. Bukan karena berbisik, tetapi memang tak pernah terucap. Sakral.

Bermain perasaan. Dan baru kusadari. Itu kegemaran.

Cinta itu buta. Dan ketika kesadaran berbuah keperihan, ingin mati saja.

Bagaimana bisa tabiat tak berubah. Sementara sosok mungil kemerahan telah hadir membahagiakan. 

Cinta itu manis namun bisa memabukkan. Terkadang sampai membusukkan. Seperti air nira. Perlahan  menjadi tuak. Aromanya jangan ditanya. Seketika menyeruak. Merusak penciuman. Susah untuk disembunyikan.

Seperti itulah kisah kamu dan dia. Ikatan terlarang dimulai. Awalnya, terasa bak gula pasir. Manis. Lalu terlena. Terperosok begitu dalam. Tenggelam dalam cinta haram. Diam. Senyap.

Tetapi kebenaran akan selalu bermuara. Menguak kesalahan dengan cara tak terduga.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.Serapi-rapinya menutup rapat dusta, asumsi-asumsi akan menemui bukti. 

Mulut tetap terkunci. Walau jelas terbukti. Untaian aksara singkat berhias bunga. Tidak bisa mengelak. Seharusnya.

Bungkam mendidihkan marah. 

"Ayo, ngomong! Jangan kayak orang bisu. Ini maksudnya apa? Ay itu panggilan sayang ke dia? Ay artinya ayang, kan?"

Gawai melayang terkena dada. Lalu, mencium lantai. Terserak menjadi tiga.

Tetap tak bergeming.

Tangan kanan spontan mencium keras pipi. Menorehkan merah. Perih sudah pasti. Karena telapak pun begitu.

Ia semakin membisu. Meringis pun tidak. Hanya mengelus pipi tiga kali. Begitu pun ekspresi wajah. Keterkejutan yang tergambar hanya sedetik saja. Mungkin ia tidak menduga. Perempuan yang begitu halus budi bahasa selama dua tahun berumah tangga, tiba-tiba mengganas. Emosi yang sudah terakumulasi sejak dulu, membuncah. Tertumpah kini. Menampilkan sisi lain. Bisa saja ia sudah bosan berlaku manis. Berpura-pura bahagia padahal penuh curiga. Dan sekarang, serupa bom. Meledak.

"Ternyata memang sudah tabiat. Pecundang!"

Walau kemarahan mencapai puncaknya, bulir bening yang seharusnya mewarnai pertikaian tidak tampak sama sekali. Walau sebutir.

Tegarkah aku?

Wanita yang baru dua bulan bertambah peran dengan hadirnya penghuni istana kecil yang membuat riuh. Namun bukan bahagia yang menguasai relung jiwa. Malah kericuhan pikiran. Dihadirkan oleh lelaki yang tak pandai bersyukur.

Perempuan: Aku Ada, Aku Bisa!

Setiap anak perempuan adalah calon istri dan ibu. Kedua peran tersebut akan membuatnya sangat sibuk dalam kehidupan rumah tangga di kemudian hari. 

Menjadi seorang istri dan ibu sejati bukanlah perkara mudah. Keduanya tidak bisa diperankan secara asal, semau gue. Butuh ilmu yang mumpuni. Sayangnya, menjadi istri dan ibu sejati belum ada sekolahnya. Tidak ada persiapan sejak dini menuju ke sana. Para orang tua pun seolah enggan memberi nasihat terkait hal tersebut.

Sumber: pixabay.com
Belajar sekaligus praktik. Sambil jalan sembari diperbaiki. Inilah yang pada umumnya dilakukan perempuan saat berumah tangga. 

Jika gagal menjadi istri, mungkin bisa mencoba menjadi istri dengan lelaki lain. Namun, jika gagal menjadi seorang ibu? 

Dampaknya akan sangat buruk. Bukan saja pada diri sendiri, tetapi juga pada anak-anak dan lingkungan sekitar.

Sederhananya, kegagalan seorang ibu adalah ketika ia tidak berhasil mendidik anak perempuannya agar berlaku sesuai dengan norma agama dan sosial. Ia tumbuh menjadi gadis liar yang tidak bisa menjaga harga diri. 

Bayangkan jika suatu saat ia hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas? Ibunya akan menanggung malu dengan cemoohan tetangga. Sang anak bisa saja menjadi depresi dan nekat bunuh diri. Bisa jadi si ibu juga ikut depresi, menjadi gila, atau bahkan akhirnya bunuh diri juga.

Jika ia mendapat perlakuan biasa saja dari keluarga dan masyarakat sekitar, bisa saja prilakunya ditiru banyak anak perempuan lain.


Sumber: https://pixabay.com/
Di sinilah pentingnya perempuan untuk memperoleh pendidikan, terutama yang berhubungan dengan life skill. Setinggi-tingginya anak perempuan bersekolah formal hingga menjadi profesor misalnya, Ia nantinya pasti akan menjadi seorang istri dan/atau seorang ibu.

Istri merupakan pendukung terbesar untuk suami, juga pendidik terbaik bagi anak.

Menjadi seorang istri terdengar sangat mudah. Cukup menikah dengan seorang lelaki, maka perempuan sudah sah berstatus istri. Padahal, menjalani peran sebagai seorang istri yang baik dan taat kepada suami tidak segampang itu.

Seorang perempuan harus dibekali ilmu bagaimana menyenangkan suaminya. Istri harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada suami hingga keharmonisan rumah tangga selalu tercipta. Walaupun tetap peran seorang suami agar berusaha maksimal dalam membahagiakan istri tetap menjadi keutamaan.

Apa saja pendidikan yang seharusnya dimiliki oleh perempuan selain pengetahuan agama?

Sumber: https://pixabay.com/

Keterampilan yang Menghasilkan

Orang tua mengambil peran penting di sini. Silakan amati minat dan bakat anak sejak dini. Mulai dari usia bayi lebih baik. Anak memiliki kecenderungan untuk melakukan aktivitas yang itu-itu saja tanpa merasa bosan. Orangtua perlu menggarisbawahinya, siapa tahu bayi yang suka mencoret-coret dinding memiliki minat dan bakat dalam menggambar. 

Orangtua bisa memfasilitasinya dengan memberi perlengkapan menggambar. Lihat bagaimana responnya, antusias atau tidak. Ketika seorang anak mahir menggambar dan melukis, di era teknologi yang semakin canggih saat ini, peluang untuk mendapatkan uang dari keterampilan ini bukan lagi hanya dari satu profesi yaitu pelukis, tetapi masih banyak sekali.

Ketika anak perempuan mandiri secara finansial, ia akan lebih mudah menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan. Pun jika ia memutuskan untuk menikah. Orang tua tidak akan terlalu khawatir dengan kecukupan finansialnya. 

Uang memang bukan segalanya, tetapi hampir segala yang diperlukan di dunia ini butuh uang. Bahkan untuk berbuat kebaikan yang besar dan bernilai ibadah sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat juga akan lebih mudah jika memiliki uang.

Memasak

Seorang perempuan seharusnya tidak boleh menafikan aktivitas ini dengan berpikir, "Ah, kalau aku punya uang banyak, aku bisa gaji pembantu buat masak, bisa catering, atau beli di warung setiap hari." Namun, ketika sudah berada pada posisi seorang istri dan ibu, Anda pasti punya keinginan untuk memasak walau sekadar menyiapkan sarapan sederhana berupa beberapa potong roti lapis untuk suami dan anak-anak Anda. 

Seorang ibu bisa mulai mengajari anak-anak perempuan untuk mencintai dapur dengan cara mengenalkan berbagai bumbu masakan, menyuruh untuk mengupas dan memotongnya. Biarkan mereka melihat Anda yang berpeluh tetapi tetap tersenyum menyelesaikan menu masakan yang enak untuk disantap seluruh keluarga. Perlahan, mereka akan belajar dan menyukai, bahkan mencintai kegiatan yang sangat identik dengan perempuan.

Satu hal yang perlu orang tua ketahui, jika anak Anda suka memasak, suatu saat nanti ia memiliki peluang besar menjadi koki yang andal dan membuka restoran dengan cabang di mana-mana.

Menjahit

Menjahit seharusnya dekat dengan dunia perempuan yang menyukai keindahan dan kerapian. Jika seorang perempuan melihat pakaian suami dan anak-anaknya sobek, jiwa keperempuanan yang dimiliki akan menuntunnya untuk mengambil jarum jahit dan benang atau berjalan menuju mesin jahit lalu mulai memperbaiki pakaian tersebut.

sumber: https://pixabay.com/
Orang tua sebaiknya mengajarkan skill ini kepada anak-anak perempuan mereka. Sama halnya dengan memasak, jika anak perempuan bisa mahir dalam menjahit, bukan tidak mungkin jika di kemudian hari ia akan menjadi desainer hebat lalu memiliki bisnis fashion dan butik yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan mancanegara.

Nah, siapa bilang pendidikan untuk perempuan itu tidak penting? Bahkan untuk urusan ranjang sekalipun, mereka membutuhkan pengetahuan yang luas tentang hal tersebut, baik dari aspek agama maupun lainnya.
Wahai perempuan, belajarlah dengan sebaik-baiknya. Temukan passionmu dan fokuslah hingga menjadi ahli. Tunjukkan pada dunia bahwa aku ada, aku bisa!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog EduCenter dengan tema "Pendidikan Sebagai Kunci Penguatan Peran Perempuan."

#educenterid




Menikah dengan Sekufu (Part Lanjutan)


Bismillah ...


Assalamu'alaikum!!!

Ada yang belum tersampaikan perihal menikah dengan sekufu yang sudah saya tulis kemarin. Bisa jadi ini termasuk inti dari tema tulisan tersebut. 

Ada satu manfaat penting yang bisa Kakak dapatkan jika menikah dengan sekufu. Di sini tentu saja sekufu dalam hal agama.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengalami gejolak batin yang sangat luar biasa. Untuk menenangkan hati, saya coba mendengarkan ceramah di Youtube dengan harapan perasaan bersalah ini bisa menemukan muara untuk menghilang tanpa diperintah.

Saya buka aplikasi Yotube di ponsel. Saya tahu jam di dinding sudah meninabobokkan sebagian besar manusia. Namun saat itu, saya tiba-tiba terbangun dan susah untuk tidur kembali.

Perlahan, saya ketik beberapa kata pada kolom search, "Cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal."

Ya, pikiran inilah yang selalu menghantui saya. Entah karena  saya termasuk orang introvert yang suka menyembunyikan tangisan dalam diam sehingga perasaan teramat sedih sering kali datang, terutama menjelang maghrib di hari Kamis.

Seperti apa perasaan saya ketika mulai mellow hanya saya saja yang tahu. Saya tidak bisa menggambarkan satu kata ataupun kalimat yang tepat untuk mewakilkan yang ada di hati.

Akhirnya ketemu dengan ceramah Buya Yahya. Isi ceramah tersebut diawali dengan salah seorang yang bertanya kurang lebih seperti ini, "Apakah seorang ayah yang meninggal dunia akan menanggung dosa anak-anaknya ketika di dunia berbuat dosa?"

Jawaban Buya Yahya sedikit membuat saya takjub dan berpikir beberapa saat. Di antara uraian beliau ia mengatakan, 


"Inilah alasan kenapa pentingnya kita memilih pasangan hidup yang shalih. Jika kita meninggal duluan, kita telah menitipkan anak pada orang yang tepat. Ia akan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya."

Dari sini saya menyadari betapa pentingnya memilih pasangan yang setara iman dan pengetahuan Islamnya dengan kita. Jika suatu saat kita meninggalkan anak-anak yang masih kecil dan belum sempat mengajarkan dan mendidik mereka dengan pengetahuan agama, bukan tidak mungkin ia akan tumbuh menjadi anak yang berorientasi hanya pada kesenangan dunia. 


Alih-alih memperoleh doa dari anak yang shalih, ia malah mengirimkan dosa-dosa besar yang harus kita tanggung saat masih di alam kubur/barzah.


Namun, jika kita memiliki istri/suami yang mendidik anak-anak kita tentang cinta pada Allah dan rasul-Nya, tentang bagaimana cara mencintai keluarga dan sesama, kelak setelah ia paham, tanpa diminta ia akan mengirimkan pahala untuk kita tanpa diminta.

Nah, Kak. Buat Kakak yang masih jomlo. Pliiis, cari deh pasangan yang sekufu dalam hal agama. 



Ada orang yang menikah karena pasangannya bergelar magister. Percayalah, pendidikan yang tinggi tak membuat semua orang bersikap dewasa jika ilmu agama sama sekali tidak ia punya. Perceraian sudah pasti mengancam pernikahan Kakak.


Jangan lupa istikharah! Minta pendapat Allah jika Kakak sudah dilamar. Jangan buru-buru mengiayakan. Jika  salah langkah, alamat penyesalan di kemudian hari membayangi kehidupan Kakak.

Stay cool!

Menikah itu bukan perkara cepat atau lambat. Hakikatnya jodoh terbaik itu pasti akan Allah berikan. 
Bersabar saja sembari memperbaiki diri terus-menerus. Jodoh itu adalah cerminan diri. Waspadalah! Hihihi

Menikah dengan pasangan yang tepat sesuai pilihan terbaik dari Allah, itu yang kita harapkan. Sepakat, Kak?

Terima kasih sudah membaca tulisan receh ini. :D

Tulisan kemarin yang aku anggap receh banget ternyata ada juga yang berkomentar kalau si Kakak baru tahu tentang kata sekufu.

Jadi, nulis yuk, Kak! Apa aja. Tulis yang baik-baik. Suatu saat tulisan Kakak akan menemui pembaca dan semoga menginspirasi mereka untuk lebih baik. Siap-siap pahala jariah mengalir ke Kakak, ya ....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.