Cerpen: Al-Faruq, Sang Pelukis Cinta

Mengelepar. Bak ayam yang baru saja disembelih. Serupa cacing terpapar terik mentari di permukaan tanah. 

Aku menemukannya. Refleks kuangkat tubuh bergetar itu tanpa keluhan. Dalam keadaan normal, menggendong semenit saja membuat lelah kedua tangan. 

Kuabaikan tangisan sang adik yang menuntut botol agar segera diisi cairan manis berwarna putih. 

Hamdalah terucap di bibir walau hati disesaki ketakutan teramat sangat. Menyadari  tersedianya air hangat yang cukup untuk membasahi sebagian tubuh dan kaki.  

Aku mendudukkan bocah lelaki itu pada ember hitam yang dulu digunakan untuk merendam pakaian kotor. Semenjak penghuni baru merampas perannya, seketika itu pula menganggur. 

Hampir satu tahun, dan kejadian itu akhirnya terulang sore ini.  Lima menit sebelum azan berkumandang. 

Dalam hitungan detik, kejang yang menyerang lenyap. Menyisakan sosok lemah dengan mata terpejam dan sedikit meracau.

Aku belum siap kehilangan, Tuhan! 

***

Menghadirkannya segera di dunia, harapan terbesar di hidupku. Rindu akan sosok mungil terbit melengkapi cinta dua insan yang terikat ikrar suci. 

Berbagai upaya dilakukan. Banyak saran dilaksanakan. Pun memaksa kekasih untuk meneguk minyak zaitun. Buah dari pohon yang diberkahi. 

Demi dua garis merah. Dengan sukarela melahap kecambah mentah setiap hari. 

Dan Allah mengabulkan keinginan. Jauh lebih cepat dari perkiraan. Memasuki bulan ketiga usia pernikahan, senyum terkembang. Allah Maha Baik. 

Tubuh yang mendadak lemah, sesekali mual dan muntah kuabaikan. Sama sekali tidak terbesit akan pertanda. Sebab tesis yang sempat tertunda menuntut untuk segera diselesaikan. 

Keberadaannya di rahim mulai terasa ketika sidang tesis berakhir dengan nilai cukup baik. Walau tak sesuai harapan. Tak mengapa. Muram di wajah segera berganti senyum berkatnya. Dan kebahagiaan wisuda strata dua terasa begitu sempurna di usia triwulan pertamanya. 

Namun, binar mata dan lengkungan manis di bibir tidak berlangsung lama. Sosok itu menebalkan rupa aslinya.

***

Masih saja menyangkal. Pendengaran lagi-lagi tak menangkap satu kata yang diharapkan. Bukan karena berbisik, tetapi memang tak pernah terucap. Sakral.

Bermain perasaan. Dan baru kusadari. Itu kegemaran.

Cinta itu buta. Dan ketika kesadaran berbuah keperihan, ingin mati saja.

Bagaimana bisa tabiat tak berubah. Sementara sosok mungil kemerahan telah hadir membahagiakan. 

Cinta itu manis namun bisa memabukkan. Terkadang sampai membusukkan. Seperti air nira. Perlahan  menjadi tuak. Aromanya jangan ditanya. Seketika menyeruak. Merusak penciuman. Susah untuk disembunyikan.

Seperti itulah kisah kamu dan dia. Ikatan terlarang dimulai. Awalnya, terasa bak gula pasir. Manis. Lalu terlena. Terperosok begitu dalam. Tenggelam dalam cinta haram. Diam. Senyap.

Tetapi kebenaran akan selalu bermuara. Menguak kesalahan dengan cara tak terduga.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.Serapi-rapinya menutup rapat dusta, asumsi-asumsi akan menemui bukti. 

Mulut tetap terkunci. Walau jelas terbukti. Untaian aksara singkat berhias bunga. Tidak bisa mengelak. Seharusnya.

Bungkam mendidihkan marah. 

"Ayo, ngomong! Jangan kayak orang bisu. Ini maksudnya apa? Ay itu panggilan sayang ke dia? Ay artinya ayang, kan?"

Gawai melayang terkena dada. Lalu, mencium lantai. Terserak menjadi tiga.

Tetap tak bergeming.

Tangan kanan spontan mencium keras pipi. Menorehkan merah. Perih sudah pasti. Karena telapak pun begitu.

Ia semakin membisu. Meringis pun tidak. Hanya mengelus pipi tiga kali. Begitu pun ekspresi wajah. Keterkejutan yang tergambar hanya sedetik saja. Mungkin ia tidak menduga. Perempuan yang begitu halus budi bahasa selama dua tahun berumah tangga, tiba-tiba mengganas. Emosi yang sudah terakumulasi sejak dulu, membuncah. Tertumpah kini. Menampilkan sisi lain. Bisa saja ia sudah bosan berlaku manis. Berpura-pura bahagia padahal penuh curiga. Dan sekarang, serupa bom. Meledak.

"Ternyata memang sudah tabiat. Pecundang!"

Walau kemarahan mencapai puncaknya, bulir bening yang seharusnya mewarnai pertikaian tidak tampak sama sekali. Walau sebutir.

Tegarkah aku?

Wanita yang baru dua bulan bertambah peran dengan hadirnya penghuni istana kecil yang membuat riuh. Namun bukan bahagia yang menguasai relung jiwa. Malah kericuhan pikiran. Dihadirkan oleh lelaki yang tak pandai bersyukur.

0 komentar:

Post a Comment