Cerpen: Goresan Abadi

Menangis dalam diam. Hanya itulah yang bisa aku lakukan. Sering sekali aku melihat mereka bertengkar. Entah karena apa. Usiaku yang masih sangat belia, belum mampu memahami pemikiran orang dewasa. 

Aku memasuki kamar itu. Kamar yang didalamnya ada tangisan dan jeritan ibu, serta kemarahan ayah. 

"Bunuh aku. Biar puas kau!" Ibu berteriak, menatap tajam ke arah ayah. 

"Kanya, ambil pisau di dapur!" perintah ayah saat melihatku masuk ke dalam kamar. 

Aku masih bisa berpikir waras. Aku diam saja, tak bergerak sama sekali. Terpaku menatap lantai. Mereka terus saja ribut. Bisakah bertengkar dengan hanya berbisik? Aku malu pada teman yang rumahnya tepat di sebelah rumahku. Dia pasti mendengarnya. 

*
Kenapa mereka tidak mampu menjaga perasaanku? Kenapa mereka selalu memperlihatkan pertikaian semacam ini?  Tidakkah mereka takut, ini akan menjadi ingatan yang tak lekang di makan usia? Ini akan berpengaruh pada kepribadianku. 

Ah, entahlah. Aku,  si sulung, yang hobi membaca majalah Bobo. Majalah anak yang penuh dengan dongeng dan cerpen syarat makna. Majalah yang membuatku mampu berimajinasi tinggi, berandai-andai jika aku terlahir di tengah keluarga yang harmonis.


0 komentar:

Post a Comment