Menikah dengan Sekufu (Part Lanjutan)


Bismillah ...


Assalamu'alaikum!!!

Ada yang belum tersampaikan perihal menikah dengan sekufu yang sudah saya tulis kemarin. Bisa jadi ini termasuk inti dari tema tulisan tersebut. 

Ada satu manfaat penting yang bisa Kakak dapatkan jika menikah dengan sekufu. Di sini tentu saja sekufu dalam hal agama.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengalami gejolak batin yang sangat luar biasa. Untuk menenangkan hati, saya coba mendengarkan ceramah di Youtube dengan harapan perasaan bersalah ini bisa menemukan muara untuk menghilang tanpa diperintah.

Saya buka aplikasi Yotube di ponsel. Saya tahu jam di dinding sudah meninabobokkan sebagian besar manusia. Namun saat itu, saya tiba-tiba terbangun dan susah untuk tidur kembali.

Perlahan, saya ketik beberapa kata pada kolom search, "Cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal."

Ya, pikiran inilah yang selalu menghantui saya. Entah karena  saya termasuk orang introvert yang suka menyembunyikan tangisan dalam diam sehingga perasaan teramat sedih sering kali datang, terutama menjelang maghrib di hari Kamis.

Seperti apa perasaan saya ketika mulai mellow hanya saya saja yang tahu. Saya tidak bisa menggambarkan satu kata ataupun kalimat yang tepat untuk mewakilkan yang ada di hati.

Akhirnya ketemu dengan ceramah Buya Yahya. Isi ceramah tersebut diawali dengan salah seorang yang bertanya kurang lebih seperti ini, "Apakah seorang ayah yang meninggal dunia akan menanggung dosa anak-anaknya ketika di dunia berbuat dosa?"

Jawaban Buya Yahya sedikit membuat saya takjub dan berpikir beberapa saat. Di antara uraian beliau ia mengatakan, 


"Inilah alasan kenapa pentingnya kita memilih pasangan hidup yang shalih. Jika kita meninggal duluan, kita telah menitipkan anak pada orang yang tepat. Ia akan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya."

Dari sini saya menyadari betapa pentingnya memilih pasangan yang setara iman dan pengetahuan Islamnya dengan kita. Jika suatu saat kita meninggalkan anak-anak yang masih kecil dan belum sempat mengajarkan dan mendidik mereka dengan pengetahuan agama, bukan tidak mungkin ia akan tumbuh menjadi anak yang berorientasi hanya pada kesenangan dunia. 


Alih-alih memperoleh doa dari anak yang shalih, ia malah mengirimkan dosa-dosa besar yang harus kita tanggung saat masih di alam kubur/barzah.


Namun, jika kita memiliki istri/suami yang mendidik anak-anak kita tentang cinta pada Allah dan rasul-Nya, tentang bagaimana cara mencintai keluarga dan sesama, kelak setelah ia paham, tanpa diminta ia akan mengirimkan pahala untuk kita tanpa diminta.

Nah, Kak. Buat Kakak yang masih jomlo. Pliiis, cari deh pasangan yang sekufu dalam hal agama. 



Ada orang yang menikah karena pasangannya bergelar magister. Percayalah, pendidikan yang tinggi tak membuat semua orang bersikap dewasa jika ilmu agama sama sekali tidak ia punya. Perceraian sudah pasti mengancam pernikahan Kakak.


Jangan lupa istikharah! Minta pendapat Allah jika Kakak sudah dilamar. Jangan buru-buru mengiayakan. Jika  salah langkah, alamat penyesalan di kemudian hari membayangi kehidupan Kakak.

Stay cool!

Menikah itu bukan perkara cepat atau lambat. Hakikatnya jodoh terbaik itu pasti akan Allah berikan. 
Bersabar saja sembari memperbaiki diri terus-menerus. Jodoh itu adalah cerminan diri. Waspadalah! Hihihi

Menikah dengan pasangan yang tepat sesuai pilihan terbaik dari Allah, itu yang kita harapkan. Sepakat, Kak?

Terima kasih sudah membaca tulisan receh ini. :D

Tulisan kemarin yang aku anggap receh banget ternyata ada juga yang berkomentar kalau si Kakak baru tahu tentang kata sekufu.

Jadi, nulis yuk, Kak! Apa aja. Tulis yang baik-baik. Suatu saat tulisan Kakak akan menemui pembaca dan semoga menginspirasi mereka untuk lebih baik. Siap-siap pahala jariah mengalir ke Kakak, ya ....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

2 comments: