Perempuan: Aku Ada, Aku Bisa!

Setiap anak perempuan adalah calon istri dan ibu. Kedua peran tersebut akan membuatnya sangat sibuk dalam kehidupan rumah tangga di kemudian hari. 

Menjadi seorang istri dan ibu sejati bukanlah perkara mudah. Keduanya tidak bisa diperankan secara asal, semau gue. Butuh ilmu yang mumpuni. Sayangnya, menjadi istri dan ibu sejati belum ada sekolahnya. Tidak ada persiapan sejak dini menuju ke sana. Para orang tua pun seolah enggan memberi nasihat terkait hal tersebut.

Sumber: pixabay.com
Belajar sekaligus praktik. Sambil jalan sembari diperbaiki. Inilah yang pada umumnya dilakukan perempuan saat berumah tangga. 

Jika gagal menjadi istri, mungkin bisa mencoba menjadi istri dengan lelaki lain. Namun, jika gagal menjadi seorang ibu? 

Dampaknya akan sangat buruk. Bukan saja pada diri sendiri, tetapi juga pada anak-anak dan lingkungan sekitar.

Sederhananya, kegagalan seorang ibu adalah ketika ia tidak berhasil mendidik anak perempuannya agar berlaku sesuai dengan norma agama dan sosial. Ia tumbuh menjadi gadis liar yang tidak bisa menjaga harga diri. 

Bayangkan jika suatu saat ia hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas? Ibunya akan menanggung malu dengan cemoohan tetangga. Sang anak bisa saja menjadi depresi dan nekat bunuh diri. Bisa jadi si ibu juga ikut depresi, menjadi gila, atau bahkan akhirnya bunuh diri juga.

Jika ia mendapat perlakuan biasa saja dari keluarga dan masyarakat sekitar, bisa saja prilakunya ditiru banyak anak perempuan lain.


Sumber: https://pixabay.com/
Di sinilah pentingnya perempuan untuk memperoleh pendidikan, terutama yang berhubungan dengan life skill. Setinggi-tingginya anak perempuan bersekolah formal hingga menjadi profesor misalnya, Ia nantinya pasti akan menjadi seorang istri dan/atau seorang ibu.

Istri merupakan pendukung terbesar untuk suami, juga pendidik terbaik bagi anak.

Menjadi seorang istri terdengar sangat mudah. Cukup menikah dengan seorang lelaki, maka perempuan sudah sah berstatus istri. Padahal, menjalani peran sebagai seorang istri yang baik dan taat kepada suami tidak segampang itu.

Seorang perempuan harus dibekali ilmu bagaimana menyenangkan suaminya. Istri harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada suami hingga keharmonisan rumah tangga selalu tercipta. Walaupun tetap peran seorang suami agar berusaha maksimal dalam membahagiakan istri tetap menjadi keutamaan.

Apa saja pendidikan yang seharusnya dimiliki oleh perempuan selain pengetahuan agama?

Sumber: https://pixabay.com/

Keterampilan yang Menghasilkan

Orang tua mengambil peran penting di sini. Silakan amati minat dan bakat anak sejak dini. Mulai dari usia bayi lebih baik. Anak memiliki kecenderungan untuk melakukan aktivitas yang itu-itu saja tanpa merasa bosan. Orangtua perlu menggarisbawahinya, siapa tahu bayi yang suka mencoret-coret dinding memiliki minat dan bakat dalam menggambar. 

Orangtua bisa memfasilitasinya dengan memberi perlengkapan menggambar. Lihat bagaimana responnya, antusias atau tidak. Ketika seorang anak mahir menggambar dan melukis, di era teknologi yang semakin canggih saat ini, peluang untuk mendapatkan uang dari keterampilan ini bukan lagi hanya dari satu profesi yaitu pelukis, tetapi masih banyak sekali.

Ketika anak perempuan mandiri secara finansial, ia akan lebih mudah menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan. Pun jika ia memutuskan untuk menikah. Orang tua tidak akan terlalu khawatir dengan kecukupan finansialnya. 

Uang memang bukan segalanya, tetapi hampir segala yang diperlukan di dunia ini butuh uang. Bahkan untuk berbuat kebaikan yang besar dan bernilai ibadah sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat juga akan lebih mudah jika memiliki uang.

Memasak

Seorang perempuan seharusnya tidak boleh menafikan aktivitas ini dengan berpikir, "Ah, kalau aku punya uang banyak, aku bisa gaji pembantu buat masak, bisa catering, atau beli di warung setiap hari." Namun, ketika sudah berada pada posisi seorang istri dan ibu, Anda pasti punya keinginan untuk memasak walau sekadar menyiapkan sarapan sederhana berupa beberapa potong roti lapis untuk suami dan anak-anak Anda. 

Seorang ibu bisa mulai mengajari anak-anak perempuan untuk mencintai dapur dengan cara mengenalkan berbagai bumbu masakan, menyuruh untuk mengupas dan memotongnya. Biarkan mereka melihat Anda yang berpeluh tetapi tetap tersenyum menyelesaikan menu masakan yang enak untuk disantap seluruh keluarga. Perlahan, mereka akan belajar dan menyukai, bahkan mencintai kegiatan yang sangat identik dengan perempuan.

Satu hal yang perlu orang tua ketahui, jika anak Anda suka memasak, suatu saat nanti ia memiliki peluang besar menjadi koki yang andal dan membuka restoran dengan cabang di mana-mana.

Menjahit

Menjahit seharusnya dekat dengan dunia perempuan yang menyukai keindahan dan kerapian. Jika seorang perempuan melihat pakaian suami dan anak-anaknya sobek, jiwa keperempuanan yang dimiliki akan menuntunnya untuk mengambil jarum jahit dan benang atau berjalan menuju mesin jahit lalu mulai memperbaiki pakaian tersebut.

sumber: https://pixabay.com/
Orang tua sebaiknya mengajarkan skill ini kepada anak-anak perempuan mereka. Sama halnya dengan memasak, jika anak perempuan bisa mahir dalam menjahit, bukan tidak mungkin jika di kemudian hari ia akan menjadi desainer hebat lalu memiliki bisnis fashion dan butik yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan mancanegara.

Nah, siapa bilang pendidikan untuk perempuan itu tidak penting? Bahkan untuk urusan ranjang sekalipun, mereka membutuhkan pengetahuan yang luas tentang hal tersebut, baik dari aspek agama maupun lainnya.
Wahai perempuan, belajarlah dengan sebaik-baiknya. Temukan passionmu dan fokuslah hingga menjadi ahli. Tunjukkan pada dunia bahwa aku ada, aku bisa!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog EduCenter dengan tema "Pendidikan Sebagai Kunci Penguatan Peran Perempuan."

#educenterid




1 comment: